Gelombang Bunyi

Bagaimana bunyi dapat dihasilkan?
Bagaimana bunyi dapat dihasilkan?

Kelajuan Suara

Pernah kepikir gak, bagaimana kamera HP bisa memfokuskan citra (kalau di image processing, orang-orang nyebutnya citra, bukan gambar) secara otomatis? Atau bisa juga disentuh dulu di layar, daerah mana yang ingin difokuskan. Salah satu pendekatannya adalah menggunakan gelombang bunyi.

Tentu hal ini tak lepas dari buah analisis mengenai gelombang tersebut. Prinsipnya sederhana, sebenarnya kalau kalian pernah pake kamera DSLR dan sebagainya, pasti paham kalau fokus itu diatur berdasarkan jarak objek terhadap lensa kamera.

Pada kamera HP, salah satu caranya adalah memanfaatkan gelombang bunyi yang dihasilkan oleh pemancar kemudian dicari berapa lama pantulannya kembali ke penerima. Tentu, semakin jauh pantulan akan memerlukan waktu yang lama dan sebaliknya.

Nah mungkin timbul pertanyaan, seberapa cepat emangnya kelajuan suara? Karena begitu cepat HP dapat merespon perintah fokus atau melakukan proses fokus otomatisnya.

Pada pembahasan sebelum-sebelumnya kita paham bahwa, gelombang bunyi ini merupakan gelombang yang memerlukan medium untuk perambatannya,

Kita kenal juga bahwa, gelombang bunyi merupakan gelombang longitudinal, yaitu berupa gelombang yang berupa regangan dan rapatan. Tentu dalam rambatannya, beberapa medium tidak semua sama karakteristiknya dalam merambatkan gelombang ini.

Dulu saya suka iseng kalau lagi dikelas, kuping saya ditempel di meja terus nyuruh temen ngomong melalui papan meja yang sama, dengan cara seperti membisik-bisikkan meja.

Tentu suara yang dihasilkan berbeda, tidak seperti ketika ngobrol biasanya (melalui udara). Karakteristik suatu medium ini ditentukkan berdasarkan seberapa besar rapatan atau regangan yang dihasilkan ketika ada tekanan yang diberikan (misal suara), yang dinamakan modulus bulk, B.

Secara matematis modulus bulk B diekspresikan sebagai berikut

B= \frac{p}{\Delta V / V} = \frac{p}{(V_0 - V_1)/V_0}

di mana:
p (Pa) adalah tekanan yang diberikan kepada medium.
V_0 (m^3) adalah volume awal medium.
V_1 (m^3) adalah volume akhir medium.

Tentu kelajuan gelombang bunyi akan bergantung dan sebanding dengan seberapa "kooperatif" medium dalam merambatkan gelombang bunyi. Oleh karena itu, persamaan kelajuan bunyi v sendiri diparametrisasi oleh modulus bulk sebelumnya

v = \sqrt{\frac{B}{\rho}}

di mana:
B (Pa) adalah modulus bulk.
\rho (kg\,m^{-3}) adalah massa jenis medium.

Rambatan Gelombang Bunyi

Pada pembahasan tentang ciri-ciri gelombang mekanik kita tahu bahwa gelombang longitudinal sama-sama diekspresikan dalam fungsi trigonometri, pertanyaanya, emang ada yang berosiliasi?

Sejatinya ada, pada gelombang longitudinal, suatu bagian dari medium mengalami osilasi yang searah dengan arah rambatnya.

Osilasi udara yang memiliki pola regang dan rapat

Kita tulis ulang aja persamaanya

d(x,t) = A\,cos\left(kx-\omega t\right)

di mana:
A (m) adalah amplitudo osilasi.
x (m) adalah posisi yang ingin diketahui simpangannya.
\omega (rad/s) adalah frekuensi gelombang.
t (s) adalah pada detik keberapa simpangan ingin diketahui.
k (m^{-1}) adalah konstanta gelombang.

Intensitas
dan
Tarafnya

Kata intensitas selalu identik dengan seberapa intens, kuat, tinggi, sering, dan lainnya. Bisa dianalogikan seperti orang belajar, semakin cepat dia memahami suatu mata pelajaran dalam waktu dekat, maka akan semakin intens pula materi yang dia dapat dalam waktu dekat, bisa diibaratkan seperti energi per satuan waktu atau daya.

Seberapa intensifnya seseorang juga bergantung terhadap keberagaman mata pelajaran yang dia dalami, kalau dia fokus pada satu mata pelajaran aja bisa jadi dia begitu hebat pada subjek tersebut, bisa diibaratkan seperti daya yang diserap pada satuan luas tertentu.

Selaras seperti analogi sebelumnya, di Fisika, intensitas I bisa diartikan sebagai daya yang diserap pada satu satuan luas, seperti berikut

I = \frac{P}{A}

di mana:
P adalah daya yang diserap atau diterima.
A adalah luas permukaan yang dikenai oleh daya yang dimaksud.

Sekarang kita beralih sedikit, di Indonesia dalam berkendara tingkat kebisingannya diatur dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 7 tahun 2009, yang berisi tentang batasan kebisingan knalpot bergantung pada cc motornya.

Sebagai contoh motor dengan cc 80 hingga 175, memiliki batas kebisingan 83 dB atau desibel, nah lho, apa tuh desibel.

Mungkin diantara tukang iseng bertanya, kalau bunyi merupakan wujud dari gelombang artinya bunyi adalah wujud perpindahan dari energi, kenapa gak pakai joule aja atau pakai intensitas sebelumnya?

Konon begini, misal kita lagi supporter-an di pertandingan antar kelas, misal udah ada 10 orang, tentu penambahan 1 orang tidak cukup untuk meningkatkan suara bising yang dihasilkan.

Lantas bagaimana, kita perlu 10 orang tambahan lagi, nah karena penambahan satu orang dirasa tidak terasa sehingga jadi kurang informatif, oleh karena itu skalanya kita ganti saja kedalam skala logaritmik, seperti berikut

L = 10\,log\,\frac{I_2}{I_1} dB

di mana:
L (dB) adalah level atau taraf intensitas bunyi.
I_1 dan I_2 (dB) adalah kedua intensitas yang ingin dibandingkan tarafnya.

Pipa Organa

Kita semua setuju bahwa, alat musik merupakan alat untuk menghasilkan suara yang khas. Berarti semua barang bisa dijadikan alat musik dong? Meja, tembok, dan lainnya, pokoknya tinggal diketuk aja tuh objek.

Tapi gak semua barang memiliki kemampuan menguatkan suara. Intinya dengan effort atau usaha yang sedikit suara yang dihasilkan lebih optimal.

Bunyi yang dihasilkan sebanding dengan amplitudo gelombangnya, artinya dengan memanfaatkan prinsip superposisi bisa didapat amplitudo yang lebih besar.

Contohnya gitar, ibarat tali yang diikat ujungnya, senar gitar juga menghasilkan suatu hasil superposisi sehingga timbul suatu gelombang stasioner dengan amplitudo yang lebih besar (karena sefase dan berlawanan pada kasus ujung diikat).

Prinsip ini juga bisa diterapkan pada suatu alat yang lebih sederhana yaitu pipa organa. Ada dua cara untuk mendapatkan gelombang stasioner tersebut, yaitu dengan menutup ujung pipa organa atau bisa juga dalam keadaan terbuka.

Di sini kita tertarik untuk mengetahui, berapa panjang gelombang yang dihasilkan oleh suatu pipa dengan panjang, misal L. Analoginya bisa diilustrasikan seperti tali yang terpasang pada tiang kemudian digetarkan.

Untuk pipa yang ujungnya terbuka diibaratkan seperti tali yang ujungnya bebas, sedangkan pipa yang tertutup seperti tali yang ujungnya diikat.

Artinya minimal akan ada dua simpangan terbesar dan satu titik yang tidak ada simpangan yang dihasilkan pada pipa yang terbuka, sedangkan pada pipa tertutup minmal terdapat satu titik yang simpangan terbesar dan titik yang tidak ada simpangannya.

Untuk membentuk gelombang dengan kriteria tersebut, maka gelombang-gelombang dengan kelipatan panjang gelombang \lambda = \frac{2L}{n}, n=1,2,\cdots untuk pipa terbuka.

Gelombang harmonik pada pipa organa terbuka

Dan \lambda = \frac{4L}{n}, n=1,3,5,\cdots untuk pipa tertutup.

Gelombang harmonik pada pipa organa tertutup

Efek Doppler

Kita paham bahwa frekuensi suatu gelombang sebanding dengan cepat rambat gelombang dan berbanding terbalik dengan panjang gelombangnya.

Sebuah fakta juga kalau kelajuan suatu benda relatif terhadap pengamat, seperti misal orang yang diam di jalan raya mengamati orang yang diam di dalam kereta, tentu pengamat mengatakan orang di dalam kereta tersebut bergerak, begitu juga suara.

Gelombang bunyi mempunyai kecepatan yang tidak begitu "cepat" dibandingkan dengan kecepatan cahaya, yang bakal dibahas nanti. Dengan demikian kelajuannya akan bergantung dengan kelajuan sumber suara. Dengan demikian sangat masuk akal apabila ada perubahan frekuensi pada, misal bunyi sirine ambulan ketika mendekat dan menjauh.

Fenomena ini pertama kali ditemukan oleh Bapak Doppler, dan frekuensi barunya f^{'} diekspresikan secara matematis sebagai berikut

.
f^{'} = \frac{v\pm v_o}{v\pm v_s}f

di mana:
v (m/s) adalah kelajuan bunyi.
v_o (m/s) adalah kelajuan pengamat.
v_s (m/s) adalah kelajuan sumber.
f (Hz) adalah frekuensi bunyi awal.

Aturannya sederhana, apabila pengamat mendekat terhadap sumber bunyi, maka tanda plus di pembilang digunakan, dan sebaliknya. Kemudian, ketika sumber searah dengan arah gelombang bunyi menuju pengamat, maka tanda minus di penyebut digunakan, dan sebaliknya.

Label
< Materi SebelumnyaGelombang Berjalan dan Stasioner
Search icon